Senin, 04 Juni 2012

Kepemimpinan Dalam Kelarasan di Minangkabau


TUGAS
KEPEMIMPINAN ORGANISASI PUBLIK










OLEH
PAHALA JUNEDI PANDAPOTAN
1010841003







PROGRAM STUDI ILMU ADMINISTRASI NEGARA
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS ANDALAS
2011
Kepemimpinan Dalam Kelarasan di Minangkabau

        Lareh atau laras artinya kesesuaian atau kesepakatan. Yang dimaksudkan di sini adalah kesepakatan antara nenek moyang suku Minangkabau untuk mengatur masyarakatnya. Jadi, lareh atau laras bisa juga disebut sebagai sistem pemerintahan. Nenek moyang yang melahirkan kesepakatan ini dipimpin oleh Datuak Parpatiah Nan Sabatang dan Datuak Katumanggungan.
        Datuak Parpatiah adalah saudara seibu dengan Datuak Katumanggungan, tetapi bapaknya berbeda. Ayah datuak Katumanggungan adalah seorang raja, yang diberi gelar Sri maharaja Diraja. Sedangkan ayah Datuak Parpatiah Nan Sabatang adalah Cati Bilang Pandai, orang biasa yang bertugas sebagai pembantu raja. Sejak kecil, keduanya sering berkelahi, sampai dewasa pun mereka berbeda pendapat.
        Cati Bilang Pandai adalah seorang yang dekat dengan rakyat, ia orang yang bijaksana, suka bermusyawarah dalam mengambil keputusan. Oleh karena itu, darah yang mengalir dalam tubuh Datuak Parpatiah adalah darah yang merakyat pula. Lain halnya dengan Datuak Katumanggungan. Oleh karena ayahnya seorang raja, sifat-sifat yang turun kepadanya juga sifat-sifat raja.
Kelarasan yang ada di Minangkabau ada dua:
1.      Lareh Bodi Caniago
      Sistem pemerintahan ini disusun oleh nenek moyang kita yang bergelar Datuak Parpatiah nan Sabatang. Sistem ini disebut juga aturan Adat Bodi Caniago.
      Menurut Tambo, pada masa lalu wilayah Kelarasan Bodi Caniago meliputi Tanjuang Nan Ampek dan Lubuak Nan Tigo. Tanjuang Nan Ampek yaitu Tanjuang Alam, Tanjuang Sungayang, Tanjuang Barulak, dan Tanjuang Bingkuang. Lubuak Nan tigo yakni Lubuak Sikarah, Lubuak Simaung, dan Lubuak Sipunai.
      Sistem disini berlandaskan di nagari dan berdaulat kepada rakyat. Semboyannya adalah ”mambasuik dari bumi”, artinya sistem yang dipakai dalam pemerintahan bersumber dari ”bawah” yakni dari rakyat. Dalam melaksanakan kepemimpinannya, pangulu langsung kepada rakyat, tidak ada pembatas. Aliran ini ”barajo ka mupakat” (beraja kepada mufakat).
Asal Kata Bodi Caniago
      Bodi Caniago berasal dari kata dalam Bahasa Sanskerta yaitu bodhi, catni dan arga. Bodhi artinya pemikiran atau cara berpikir. Catni berarti elok, baik, atau bagus. Karena maksudnya berupa sifat bagi pemikiran maka catni dapat juga diartikan cerdas atau brilian. Sedangkan Arga berarti puncak atau keutamaan. 
      Jadi Bodhi Catni Arga dapat diartikan sebagai puncak pemikiran yang brilian, atau puncak pemikiran yang cerdas. Maka, kelarasan Bodi Caniago dapat diartikan sebagai sebagai aliran atau paham yang menganut sistem kemasyarakatan yang mengutamakan cara berpikir yang cerdas
Moto Adat Kelarasan Bodi Caniago
      Moto adat Lareh Bodi Caniago, adalah : mambasuik dari bumi, tuah di sakato ; Duduak sahamparan, tagak sapamatang (Membersit dari bumi, keutamaan pada permufakatan ; duduk sehamparan, tegak sepematang).
      Membersit dari bumi ini maksudnya, muncul sebagai hasil analisis akal pikiran atau kecerdasan pemikiran manusia. Artinya, segala sesuatu perbuatan atau ketentuan dalam adat harus muncul sebagai hasil rumusan pemikiran manusia. 
      Namun sebelum menjadi sebuah aturan atau ketentuan, hal itu harus di musyawarahkan, hingga mendapatkan kata sepakat (Tuah Disakato). Jadi adat lareh Bodi Caniago lebih mengutamakan ijtihad dalam menyikapi berbagai urusan.
      Menurut adat Bodi Caniago, segala keputusan yang akan diambil dan akan dilaksanakan dalam masyarakat Minangkabau haruslah terlebih dahulu melalui mufakat. Hal ini disebut dengan barajo ka mupakaik, tuah disakato (barajo ka mupakaik, tuah disakato).
      Segala keputusan yang akan diambil dan akan dilaksanakan dalam masyarakat Minangkabau haruslah terlebih dahulu melewati proses mufakat, seperti tertuang dalam kata-kata adat berikut ini :
Putuih rundiang di sakato,
Rancak rundiang dipakati,
Di lahia alah samo nyato,
Di batin samo dilihati,
Talatak suatu di tampeknyo,
Di dalam cupak jo gantang,
Di lingkuang barih jo balabeh,
Nan dimakan mungkin jo patuik,
Dalam kandungan adat jo pusako,
Putuih rundiang di sakato,
Rancak rundiang dipakati,
Di lahia alah samo nyato,
Di batin samo dilihati,
Talatak suatu di tampeknyo,
Di dalam cupak jo gantang,
Di lingkuang barih jo balabeh,
Nan dimakan mungkin jo patuik,
Dalam kandungan adat jo pusako,
Adat Datuak Parpatiah Nan Sabatang
      Kelarasan Bodi Caniago sering juga disebut dengan adat Datuak Parpatiah Nan Sabatang. Sedangkan Karena menurut sejarahnya, pada masa dahulu, Datuak Parpatiah Nan Sabatang berpendapat bahwa undang-undang yang sedang berlaku saat itu perlu dikoreksi dan diluruskan. Dalam bahasa hukum sekarang, mereka meminta agar undang-undang tersebut diamandemen. 
      Jadi, Kelarasan Bodi Caniago dirumuskan oleh nenek moyang kita zaman dahulu berdasarkan  pandangan-pandangan  dan masukan yang mendukung gagasan pembaruan oleh Datuak Parpatiah Nan Sabatang tersebut.
      Karena itu aturan ini disebut juga dengan Adat Datuak Parpatiah Nan Sabatang. Datuak Parpatiah Nan Sabatang dalam berbagai cerita Tambo memang dikenal sebagai pemikir yang cerdas dan cendekia.
      Musyawarah menjadi inti dalam mengambil kebijaksanaan, rakyat selalu dilibatkan dalam mengambil ketetapan. Hal itu menunjukkan bahwa Bodi Caniago demokratis.
      Kelarasan Bodi Caniago, juga mempunyai daerah setaraf Langgam Nan Tujuh dalam kelarasan Koto Piliang, yang disebut Tanjuang Nan Ampek, Lubuak Nan Tigo (juga tujuh daerah khusus dengan tujuh penghulu/pucuak buleknyo)
  • Tanjuang Bingkuang (Limo kaum dan sekitarnya)
  • Tanjung Sungayang
  • Tanjuang Alam
  • Tanjuang Barulak
  • Lubuk Sikarah
  • Lubuk Sipunai
  • Lubuk Simawang

2.      Lareh Koto Piliang
      Sistem pemerintahan ini disusun oleh nenek moyang kita yang bergelar Datuak Katumanggungan. Peraturan ini disebut juga Adat Koto Piliang.
      Sistem ini berdaulat kepada raja, artinya kekuasaan tertinggi berada di tangan raja (pemimpin). Menurut Koto Piliang, sembah datangnya dari rakyat dan titiah datangnya dari raja (pangulu). Oleh sebab itu dikatakan 'titiak dari ateh” (titik dari atas). Segala kebijakan datangnya dari atas, dan masyarakat tidak diikutsertakan. Pemerintahannya bersifat otokratis.
      Kebenaran berada di tangannya, semua tindakan harus dibenarkan oleh rakyatnya. Akan tetapi dalam memerintah, ia selalu bijaksana. Secara sekolas, mungkin Koto Piliang tidak memperlihatkan demokrasi. Akan tetapi, dalam menyusun ketentuan dan peraturan, ia tetap memakai demokrasi.
      Roda pemerintahan dijalankan dalam sistem Koto Piliang, yang dalam hal ini dijalankan oleh Basa Ampek Balai:
1.      Panitiahan – berkedudukan di Sungai Tarab – Pamuncak Koto Piliang
2.      Makhudum – berkedudukan di Sumanik – Aluang bunian Koto Piliang
3.      Indomo – berkedudukan di Saruaso – Payung Panji Koto Piliang
4.      Tuan Khadi – berkedudukan di Padang Ganting – Suluah Bendang Koto Piliang (ditambah seorang lagi yang kedudukannya sama dengan Basa Ampek Balai)
5.      Tuan Gadang – berkedudukan di Batipuh – Harimau Campo Koto Piliang
Setiap Basa, mempunyai perangkat sendiri untuk mengurus masalah-masalahdaerah kedudukannya. Setiap basa membawahi beberapa orang datuk di daerah tempat kedudukannya, tergantung kawasannya masing-masing. (Ada yang 9 datuk seperti Sungai Tarab, 7 datuk seperti di Saruaso dll). Setiap Basa diberi wewenang oleh raja untuk mengurus wilayah-wilayah tertentu, untuk memungut ameh manah, cukai, pengaturan wilayah dan sebagainya. Misalnya;
a)      Datuk Bandaro untuk daerah pesisir sampai ke Bengkulu
b)      Makhudum untuk daerah pesisir timur sampai ke Negeri Sembilan
c)      Indomo untuk daerah pesisir barat utara.
d)     Tuan Kadi untuk daerah Minangkabau bagian selatan.
Pada setiap nagari, ada beberapa penghulu yang berada di bawah setiap basa yang mengepalai nagari-nagari tersebut.
Langgam Nan Tujuah (7 daerah istimewa)
      Di dalam sistem pemerintahan itu, ada daerah-daerah istimewa yang dipimpin oleh seorang penghulu yang langsung berada di bawah kuasa raja. Dia tidak berada di bawah Basa 4 Balai. Daerah-daerah istimewa ini mempunyai fungsi dan kedudukan tersendiri dan sampai sekarang masih dijalankan. Langgam nan tujuh itu terdiri dari tujuh daerah/wilayah dengan gelar kebesarannya masing-masing:
  1. Pamuncak Koto Piliang >> Daerahnya Sungai Tarab salapan batu
  2. Gajah Tongga Koto Piliang >> Daerahnya Silungkang & Padang Sibusuak
  3. Camin Taruih Koto Piliang >> Daerahnya Singkarak & Saningbaka
  4. Cumati Koto Piliang >> Daerahnya Sulik Aie & Tanjuang Balik
  5. Perdamaian Koto Piliang >> Daerahnya Simawang & Bukik Kanduang
  6. Harimau Campo Koto Piliang >> Daerahnya Batipuh 10 Koto
  7. Pasak kungkuang Koto Piliang >> Daerahnya Sungai Jambu & Labu Atan
Sekilas Tentang Kedudukan Raja dalam Kelarasan Koto Piliang
      Dalam khazanah kelarasan Koto Piliang dikenal lembaga-lembaga yang bernama Langgam Nan Tujuah, Rajo Tigo Selo dan Basa Ampek Balai. Lembaga-lembaga ini sudah ada sejak kelarasan Koto Piliang didirikan, berlanjut sampai masa pemerintahan Pagaruyung dan diteruskan sampai saat ini. Pada masa pemerintahan Kerajaan Pagaruyung, kelarasan Koto Piliang tampak mendominasi struktur dan gaya pemerintahan Kerajaan Pagaruyung yang aristokratis sesuai nilai-nilai dan falsafah yang dianut kerajaan-kerajaan Jawa. Nilai nilai feodal, sentralistik, otokratis dan aristokratis ini dibawa oleh Adityawarman yang kemudian dirajakan sebagai salah satu anggota Rajo Tigo Selo. Kelarasan Koto Piliang yang didirikan oleh Datuk Katumanggungan ini memang berpandangan bahwa lembaga raja dalam hal ini Rajo Tigo Selo sangat dihormati. Kedudukan raja berada diatas segalanya menurut adat Koto Piliang.
      Oleh sebab itu di daerah rantau yang rajanya (raja-raja kecil) ditunjuk langsung oleh Pagaruyung sebagai perwakilan disana, aturan dan madzhab ketatanegaraan Koto Piliang sangat mendominasi. Sebagai contoh adalah di Rantau Pasaman, nagari-nagari seperti Talu, Pasaman, Lubuk Sikaping, Rao , Cubadak dan Kinali diperintah oleh raja-raja kecil dengan sistem kelarasan Koto Piliang, dimana pergantian kepemimpinan dilakukan secara turun temurun layaknya sistem monarki kerajaan. Berikut adalah raja-raja kecil yang memerintah di nagari-nagari tersebut:
  • Daulat Parik Batu di Pasaman
  • Tuanku Bosa di Talu
  • Rajo Bosa di Sundatar Lubuk Sikaping
  • Tuanku Rajo Sontang di Cubadak
  • Daulat Yang dipertuan di Kinali
  • Yang Dipertuan Padang Nunang di Rao
Berbeda halnya dengan kelarasan Koto Piliang yang mendudukkan raja di atas segalanya, kelarasan Bodi Caniago memposisikan raja dan lembaga raja hanya sebagai simbol pemersatu. Akibatnya walaupun kelarasan ini memiliki 7 daerah istimewa beserta pemimpin-pemimpinnya, tidak ada bagian struktur kelarasan ini yang menyatu secara struktural dengan pemerintahan Kerajaan Pagaruyung. Daerah-daerah penganut kelarasan Bodi Caniago tersebar di Luhak Agam,  Luhak Limopuluah, Solok dan sebagian kecil nagari di Luhak Tanah Datar (ex: Tanjung Sungayang). Daerah-daerah ini menganut kultur egaliterian dan anti sentralisme kekuasaan. Terbukti sebagian daerah-daerah di wilayah ini menjadi pendukung gerakan PRRI tahun 1957-1960 sebagai reaksi atas kebijakan sentralistik dari pusat kekuasaan di Jawa. Daerah-daerah wilayah ini pula yang paling bersemangat untuk kembali ke sistem pemerintahan nagari setelah periode reformasi.
Dinamika Langgam Nan Tujuah, Rajo Tigo Selo dan Basa Ampek Balai
      Pada awalnya Langgam Nan Tujuah beranggotakan sebagai berikut:
  1. Pamuncak Koto Piliang (Pemimpin Langgam Nan Tujuah) berkedudukan di Sungai Tarab Salapan Batua
  2. Perdamaian Koto Piliang (Juru Damai Sengketa antar Nagari) berkedudukan di Simawang Bukik Kanduang
  3. Pasak Kungkuang Koto Piliang (Keamanan Dalam Negeri) berkedudukan di Sungai Jambu Lubuak Atan
  4. Harimau Campo Koto Piliang (Panglima Perang) berkedudukan di Batipuah Sapuluah Koto
  5. Camin Taruih Koto Piliang (Badan Penyelidik) berkedudukan di Singkarak Saniang Baka
  6. Cumati Koto Piliang (Pelaksana Hukum) berkedudukan di Tanjung Balik  Sulik Aia
  7. Gajah Tongga Koto Piliang (Benteng Selatan) berkedudukan di Silungkang Padang Sibusuak
Rajo Tigo Selo
      Rajo Tigo Selo merupakan sebuah institusi tertinggi yang disebut Limbago Rajo, masing-masing terdiri dari Raja Alam, Raja Adat dan Raja Ibadat yang berasal dari satu keturunan. Ketiga raja dalam berbagai tulisan tentang kerajaan Melayu Minangkabau ditafsirkan sebagai satu orang raja.
      Raja Adat mempunyai tugas untuk memutuskan hal-hal berkaitan dengan masalah peradatan, dan Raja Ibadat untuk memutuskan hal-hal yang menyangkut keagamaan.  Pada awalnya institusi untuk Raja Alam dan Raja Adat disebut sebagai Rajo Duo Selo, namun setelah agama Islam masuk ke Minangkabau diangkatlah Raja Ibadat.
Rajo Tigo Selo Pada Masa Pagaruyung
      Pada masa pemerintahan Pagaruyung terdapat tiga istana untuk ketiga Raja yaitu :
  • Istana Ateh Ujuang di Balai Janggo tempat bersemayam Raja Adat
  • Istana Balai Rabaa di Gudam tempat bersemayam Raja Alam
  • Istana Ekor Rumpuik di Kampuang Tangah tempat bersemayam Raja  Ibadat
akan tetapi
  • Raja Alam berkedudukan di Pagaruyuang
  • Raja Adat berkedudukan di Buo
  • Raja Ibadat berkedudukan di Sumpur Kudus
Basa Ampek Balai
      Dalam struktur pemerintahan kerajaan Pagaruyung Rajo Tigo Selo  dibantu oleh dewan menteri sejumlah empat orang yang disebut Basa Ampek Balai yang mempunyai tugas dan kewenangan-kewenangan dan tempat kedudukan atau wilayah sendiri pada nagari-nagari yang berada di sekeliling pusat kerajaan Pagaruyung. Pada awalnya Basa Ampek Balai beranggotakan sebagai berikut:
  1. Tuan Gadang di Batipuah, Harimau Campo Koto Piliang
  2. Datuak Bandaro Putiah di Sungai Tarab, Pamuncak Alam Koto Piliang
  3. Machudum di Sumaniak, Aluang Bunian Koto Piliang
  4. Indomo di Saruaso, Payuang Panji Koto Piliang
Setelah kuatnya agama Islam maka dirasa perlu untuk menambahkan pemimpin di bidang agama. Oleh karena itu struktur Basa Ampek Balai berubah menjadi :
  1. Datuak Bandaro Putiah di Sungai Tarab, Pamuncak Alam Koto Piliang
  2. Machudum di Sumaniak, Aluang Bunian Koto Piliang
  3. Indomo di Saruaso, Payuang Panji Koto Piliang
  4. Tuan Kadi di Padang Gantiang, Suluah Bendang Koto Piliang
Pada awalnya Tuan Gadang di Batipuah berdiri sendiri, namun kemudian menjadi bagian dari Basa Ampek Balai. Setelah Tuan Kadi menjadi anggota Basa Ampek Balai, Tuan Gadang kembali keluar dari struktur namun tetap memiliki kedudukan yang tinggi dalam struktur pemerintahan Pagaruyung. Ini disebabkan karena Tuan Gadang membawahi Nagari Batipuh yang merupakan nagari raksasa pada zaman itu, yang luas wilayahnya puluhan kali lipat dari nagari-nagari sekitar. Bahkan diantara orang-orang besar itu, hanya Tuan Gadang Batipuah yang berhak berdiri di hadapan Raja Alam.
Dalam hal pewarisan gelar dan jabatan, waris Raja turun kepada anaknya sedangkan waris  Tuan Gadang, Basa Ampek  Balai dan Langgam Nan Tujuah turun kepada kemenakan.









Perbedaan antara Kelarasan Bodi Caniago dengan Koto Piliang
Bodi Caniago
Koto Piliang
Dikembangkan dan dipimpin oleh Datuak Parpatiah Nan Sabatang
Dikembangkan dan dipimpin oleh Datuak Katumangguangan
Berdaulat pada rakyat, diungkapkan:
putuih rundiangan dek sakato
rancak rundiangan disapakati 
kato surang dibulek-i 
kato basamo kato mufakat 
saukua mako manjadi, sasuai mako takanak 
tuah dek sakato, mulonyo rundiang dimufakati 
di lahia lah samo nyato, di batin buliah diliek-i
Berpusat pada pimpinan, diungkapkan:
nan babarih nan bapaek 
nan baukua nan bacoreng 
titiak dari ateh, turun dari tanggo 
tabujua lalu, tabalintang patah
Semboyannya mambasuik dari bumi
Semboyannya titiak dari ateh
Bersifat demokratis
Bersifat otokratis
Pengambilan keputusan mengutamakan kata mufakat. Keputusan diambil berdasarkan kesepakatan bersama, bukan hanya berasal dari pimpinan saja, akan tetapi masyarakatnya ikut dilibatkan.
Pengambilan keputusan berpedoman pada kebijaksanaan dari atas. Segala bentuk keputusan datangnya dari atas. Masyarakat tinggal menerima apa yang telah ditetapkan.
Penggantian gelar pusaka secara hiduik bakarelaan, artinya penghulu bisa diganti jika sudah tidak mampu lagi melaksanakan tugasnya
Penggantian gelar pusaka secara mati batungkek budi, artinya penghulu baru bisa diganti jika sudah meninggal
Pewarisan gelar disebut gadang bagilia, artinya gelar penghulu boleh digilirkan pada kaum mereka walau bukan saparuik, asalkan melalui musyawarah adat
Pewarisan gelar disebut patah tumbuah hilang baganti, artinya gelar penghulu harus tetap di pihak mereka yang saparuik (sekeluarga).
Rumah gadang lantainya rata saja dari ujung sampai pangkal
Rumah gadang mempunyai anjung pada lantai kiri dan kanan
Menurut tambo, daerah kebesarannya:
·         Tanjuang Nan Ampek
1.      Tanjuang Alam
2.      Tanjuang Sungayang
3.      Tanjuang Barulak
4.      Tanjuang Bingkuang
·         Lubuak Nan Tigo
1.      Lubuak Sikarah
2.      Lubuak Simauang
3.      Lubuak Sipunai
Susunan kebesaran ini dinamakan Lareh Nan Bunta.
Menurut tambo, daerah kebesarannya:
·         Langgam Nan Tujuah
1.      Singkarak – Saningbaka
2.      Sulik Aia – Tanjuang Balik
3.      Padang Gantiang
4.      Saruaso
5.      Labutan – Sungai Jambu
6.      Batipuah
7.      Simawang – Bukik Kanduang
·         Basa Ampek Balai
1.      Sungai Tarab
2.      Saruaso
3.      Padang Gantiang
4.      Sumaniak
Susunan kebesaran ini dinamakan Lareh Nan Panjang.
Kekuasaan penghulu sama di nagari, disebut pucuak tagerai.
Penghulunya bertingkat-tingkat,disebut pucuak bulek, urek tunggang. Tingkatannya adalah panghulu pucuak, panghulu kaampek suku, dan panghulu andiko.

Singkatnya, perbedaan antara Adat Koto Piliang dengan Bodi Caniago
1.      Memutuskan Perkara
Menghadapi sesuatu permasalahan dalam memutuskan perkara, Bodi Caniago berpedoman kepada “…tuah dek sakato, mulonyo rundiang dimufakati, dilahia lah samo nyato di batin buliah diliekti…” (tuah karena sekata, mulanya rundingan dimufakati, dilahir sudah sama nyata, dibatin boleh dilihat). Artinya sesuatu pekerjaan atau menghadapi sesuatu persolan terlebih dahulu hendaklah dimufakati, dimusyawarahkan. Hasil dari mufakat ini benar-benar atas suara bersama, sedangkan Koto Piliang berdasarkan kepada “…nan babarih nan bapahek, nan baukua, nan bakabuang : coreng barih buliah diliek, cupak panuah bantangnyo bumbuang…” ( yang digaris yang dipahat, yang diukur yang dicoreng : baris boleh dilihat, cupak penuh gantangnya bumbung). Pengertian segala undang-undang atau peraturan yang dibuat sebelumnya dan sudah menjadi keputusan bersama harus dilaksanakan dengan arti kata “terbujur lalu terbulintang patah”.
2.      Mengambil Keputusan
Dalam mengambil suatu keputusan adat Bodi Caniago berpedoman kepada “…kato surang dibuleti katobasamo kato mufakat, lah dapek rundiang nan saiyo, lah dapek kato nan sabuah, pipiah dan indak basuduik bulek nan indak basandiang, takuruang makanan kunci, tapauik makanan lantak, saukua mako manjadi, sasuai mangko takana, putuih gayuang dek balabeh, putih kato dek mufakat, tabasuik dari bumi…”. (kata seorang dibulati, kata bersama kata mufakat, sudah dapat kata yang sebuah, pipih tidak bersudut, bulat tidak bersanding, terkurung makanan kunci, terpaut makanan lantak, seukur maka terjadi, sesuai maka dipasangkan, putus gayung karena belebas, putus kata karena mufakat, tumbuh dari bumi). Maksud dari sistem adat Bodi Caniago ini yang diutamakan sekali adalah sistem musyawarah mencari mufakat.
Sedangkan Koto Piliang yang menjadi ketentuannya, “…titiak dari ateh, turun dari tanggo, tabujua lalu tabalintang patah, kato surang gadang sagalo iyo, ikan gadang dalam lauik, ikan makannyo, nan mailia di palik, nan manitiak ditampung…” (titik dari atas, turun dari tanggga, terbujur lalu terbelintang patah, kata sorang besar segala iya, ikan besar dalam laut ikan makannya, yang mengalir di palit yang menitik ditampung).
3.      Pengganti Gelar Pusaka
Pada lareh Bodi Caniago seseorang penghulu boleh hidup berkerilahan, yaitu mengganti gelar pusaka kaum selagi orangnya masih hidup. Hal ini bila yang digantikan itu sudah terlalu tua dan tidak mampu lagi menjalankan tugasnya sebagai pemimpin anak kemenakan. Dalam adat dikatakan juga “lurahlah dalam, bukiklah tinggi” (lurah sudah dalam, bukik sudah tinggi). Sedangkan pada lareh Koto Piliang “baka mati batungkek budi” (mati bertongkat budi) maksudnya gelarnya itu baru bisa digantikan setelah orangnya meninggal dunia.
4.      Kedudukan Penghulu
Pada lareh Koto Piliang ada tingkatan-tingkatan penguasa sebagai pembantu penghulu pucuk, berjenjang naik bertangga turun. Tingkatan penghulu dalam nagari ada penghulu andiko, penghulu suku, dan penghulu pucuk. Penghulu pucuk inilah sebagai pucuk nagari. “bapucuak bulek, baurek tunggang” (berpucuk bulat berurat tunggang). Sedangkan pada Bodi Caniago semua penghulu sederajat duduknya “sahamparan, tagak sapamatang” (duduk sehamparan tegak sepematang).
5.      Balai Adat dan Rumah Gadang
Balai adat lareh Koto Piliang mempunyai anjuang kiri kanan berlabuh gajah di tengah-tengah. Anjung kiri kanan ada tempat yang ditinggikan. Ini dari lantai yang lain untuk menempatkan penghulu-penghulu sesuai dengan fungsinya atau tingkatannya. Lantai rumah gadang Koto Piliang ada tingkatannya. Maksudnya juga bila ada persidangan penghulu-penghulu tidak sama tinggi kedudukannya, dia duduk sesuai dengan fungsinya dalam adat.
Pada lareh Bodi Caniago lantai balai adat dan rumah gadang, lantainya datar saja. Semua penghulu duduk sehamparan duduk sama rendah, tegak sama berdiri.
Secara substansial, kedua sistem adat ini sesungguhnya sama-sama bertitik tolak pada azas demokrasi. Perbedaannya hanya terletak pada aksentuasi dalam penyelenggaraan dan perioritas pada hak azasi pribadi disatu pihak dan kepentingan umum dipihak lain. Suatu fenomena yang sudah sama tuanya dengan sejarah kebudayaan umat manusia sendiri.


Dari penjelasan di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa gaya kepemimpinan Bodi Caniago adalah gaya kepemimpinan Demokratis yang dalam konsepnya adalah gaya kepemimpinan yang berorientasi pada manusia, dan memberikan bimbingan yang efisien kepada para pengikutnya. Terdapat koordinasi pekerjaan pada semua bawahan , dengan penekanan pada rasa tangggungjawab internal (pada diri sendiri) dan kerjasama yang baik. Kekuatan kepemimpinan demokratis ini bukan terletak pada “person atau individu pemimpinnya”, akan tetapi kekuatan justru terletak pada partisipasi aktif dari setiap warga kelompok. Kepemimpinan demokratis menghargai potensi setiap individu mau mendengarkan nasihat dan sugesti bawahan, juga bersedia mengakui keahlian para spesialis dengan bidangnya masing-masing, mampu memanfaatkan kapasitas setiap anggota seefektif mungkin pada saat-saat dan kondisi yang tepat.
Ini dapat dilihat dari Semboyan yang dimiliki Kelarasan Bodi Caniago yaitu mambasuik dari bumi yang menggambarkan bahwa semua keputusan berasal dari bawah (masyarakat), dimana masyarakat melakukan musyawarah dan mengambil mufakat untuk kemudian dijadikan sebagai keputusan yang secara otomatis disetujui bersama oleh semua pihak. Dalam Kelarasan Bodi Caniago, pengambilan keputusan harus berdasarkan mufakat dengan kata lain setiap keputusan harus berdasarkan kesepakatan bersama yang melibatkan masyarakat di dalamnya, bukan hanya tergantung pada pemimpinnya saja.
Kriteria Kepemimpinan Kelarasan Bodi Caniago
·         Sistem kepemimpinan yang berdaulat kepada rakyat
·         Segala keputusan yang akan diambil dan akan dilaksanakan dalam masyarakat Minangkabau haruslah terlebih dahulu melalui mufakat
·         Rakyat boleh menyampaikan aspirasinya terhadap keputusan pemimpin
·         Keputusan yang telah ditetapkan bisa diubah/diamandemen apabila berdasarkan hasil mufakat tidak disetujui oleh rakyat banyak
·         Pemimpin dipilih berdasarkan hasil mufakat
·         Pengambilan keputusan mengutamakan kata mufakat. Keputusan diambil berdasarkan kesepakatan bersama, bukan hanya berasal dari pimpinan saja, akan tetapi masyarakatnya ikut dilibatkan.
·         Pemimpin bisa diganti jika sudah tidak mampu lagi melaksanakan tugasnya
·         Pewarisan gelar berdasarkan musyawarah dan mufakat adat.
Sedangkan gaya kepemimpinan Koto Piliang adalah gaya kepemimpinan otokratis yang dalam konsepnya adalah gaya kepemimpinan yang mendasarkan diri pada kekuatan dan paksaan yang mutlak harus dipatuhi. Pemimpinnya selalu mau berperan sebagai pemain tunggal pada a one-man show. Pemimpin berambisi sekali untuk merajai situasi, dan setiap perintah serta kebijakan ditetapkan tanpa berkonsultasi dengan bawahannya. Anak buah tidak pernah diberi informasi mendetail mengenai rencana dan tindakan yang harus dilakukan. Semua pujian dan kritik terhadap segenap anak buah diberikan atas pertimbangan pribadi pemimpin sendiri.
Hal ini dapat dilihat dari Semboyan yang dimiliki Kelarasan Koto Piliang yaitu titiak dari ateh yang menggambarkan bahwa semua keputusan berasal dari atas (pemimpin), dimana pemimpin setiap keputusan yang dihasilkan itu berasal dari pemimpin tanpa dikoordinasikan terlebih dahulu kepada masyarakat, sehingga dalam hal ini masyarakat hanya menerima apa yang telah ditetapkan dari atas. Semua keputusan berdasarkan kebijaksanaan dari atas, bukan berdasarkan keputusan bersama seperti yang terjadi pada Kelarasan Bodi Caniago.
Kriteria Kepemimpinan dalam Kelarasan Koto Piliang
·         Pemimpin mendominasi dalam pembuatan keputusan
·         Pengambilan keputusan berpedoman pada kebijaksanaan dari atas. Segala bentuk keputusan datangnya dari atas. Masyarakat tinggal menerima apa yang telah ditetapkan
·         Pemimipin baru bisa diganti jika sudah meninggal
·         Pewarisan berdasarkan garis keturunan penghulu yang memimpin sebelumnya
·         Hirarki kepemimpinannya jelas dengan pemimpin yang bertigkat-tingkat
·         Pemimpin juga berperan sebagai pengawas terhadap semua aktivitas anggotanya dan pemberi jalan keluar bila anggota mengalami masalah.


DAFTAR PUSTAKA

Azrial,Yulfian.1994. Budaya Alam Minangkabau. Sumatera Barat: Angkasa Raya.
http://www.sumbaronline.com/berita-1404-kelarasan-bodi-chaniago.html

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar